Home » » 5 Hal Negatif dari Hadirnya Pertalite

5 Hal Negatif dari Hadirnya Pertalite

Written By HUSNI ZULFIKAR on Minggu, 26 Juli 2015 | 08.33

Pertalite resmi hadir dan secara khusus diluncurkan sebagai alternatif bahan bakar selain premium. Dengan kelas kualitas di atas premium, namun dengan harga yang masih di bawah pertamax. Jelas bagi sebagian masyarakat merupakan angin segar sebagai alternatif bahan bakar.

Pertalite yang untuk sementara masih disosialisasikan di SPBU yang terletak di jalan tol menawarkan beberapa kelebihan, sekaligus kekurangan yang berada dalam satu paket. Dan otomatis hal tersebut akan jadi wacana bagi masyarakat menengah ke bawah untuk menentukan moda transportasi yang akan dipilih, berikut ada 5 hal negatif dari eksistensi Pertalite.

1. Harga Lebih Tinggi 

Tak semudah membalikkan telapak tangan, karena eksistensi Premium sudah ada sejak beberapa dekade belakangan. Hal ini membuat Premium jadi opsi pertama dalam bahan bakar terutama kendaraan kelas menengah kebawah. Lantaran demikian, harga Pertalite dirasa kurang ideal.
Dengan kisaran harga Pertalite mulai dari Rp 8.000,- sampai Rp 8.300,- per Liternya, memang tidak ada selisih jauh dengan Premium. Tapi jika diakumulasikan, harga tersebut juga akan mempengaruhi kantong pelanggan yang berprofesi sebagai penyedia layanan transportasi seperti angkot.

2. Kenaikan Harga

Belum selesai sampai di harga bensin dan tarif angkutan umum saja, namun kenaikan harga apabila kewajiban para pemilik angkutan umum dan motor serta mobil beralih dari Premium ke Pertalite akan merambah ke jalur-jalur lainnya, seperti kenaikan bahan pangan.

Terasa kurang logis, tapi jika diruntut balik, maka penggunaan harga baru saat menggunakan Pertalite akan membuat biaya transportasi dan pengiriman barang serta bahan pangan juga akan meningkat sesuai dengan kebutuhan para penyedia jasa transportasi. Efek berantai tersebut akan sampai ke elemen yang paling dasar, seperti kebutuhan makanan sehari-hari. 


3. Bahan Pertalite

Pertalite merupakan bahan bakar dengan kadar oktan yang lebih baik daripada Premium, namun masih berada di bawah Pertamax, yakni pada angka 90-91. Hal ini dianggap akan memenuhi standart Euro 4 yang telah diterapkan sebagai batas aman dari emisi gas buang kendaraan.
Namun kabar yang beredar adalah bahwa sebetulnya Pertalite bukanlah produk baru. Bisa jadi merupakan campuran antara Pertamax dan Premium yang di-mix menggunakan proses khusus sehingga terbentuk Pertalite. Artinya, produk yang sama sekali tidak baru ini, memberikan kesan bahwa Pertalite merupakan hasil 'uji coba', bukan dengan proses yang matang.

4. Kecocokan

Masyarakat Indonesia dimudahkan sekali dengan eksistensi kendaraan roda dua murah. Selain itu keberadaan jasa kredit mobil dan motor juga cukup banyak berada di Indonesia. Namun terhitung hingga awal tahun 2013, dominasi motor cub, alias bebek menyentuh angka lebih dari 50 juta unit dan berpotensi naik hingga 80 juta unit tahun 2015 ini, masih jauh lebih tinggi daripada motor sport
Selain itu dominasi angkutan kota dan mobil buatan di bawah 2005 juga jadi fakta tersendiri. Yang berarti, bahwa kendaraan-kendaraan tersebut masih lebih membutuhkan Premium daripada bahan bakar yang lainnya. Karena motor bebek dan angkutan umum sudah lebih dari cukup untuk mengonsumsi Premium.

5. Kedaruratan


Pertalite hadir dengan tawaran bahan bakar non timbal dengan kualitas jauh lebih baik daripada Premium. Pertanyaannya, apakah di negara lain juga sudah menerapkan hal yang sama? Sebagai contoh, Australia dan Amerika serikat masih cukup banyak juga yang mengonsumsi bahan bakar dengan oktan 87 untuk mobil model lama di bawah tahun 2005.
Hal ini merupakan satu petunjuk bahwa negara lain-pun tidak terlalu terburu-buru dalam menyesuaikan penggunaan bahan bakar. Pada akhirnya, satu-satunya kondisi darurat dari penggunaan Pertalite adalah untuk mengurangi beban dana negara yang membengkak gara-gara impor premium.



Sumber : http://www.otosia.com/
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar