Home » » Mesin Diesel Bukan Berarti ”Tahan” Banjir

Mesin Diesel Bukan Berarti ”Tahan” Banjir

Written By HUSNI ZULFIKAR on Senin, 25 April 2016 | 07.23



Masih banyak anggapan tentang mesin diesel yang ”kuat” menerjang banjir karena berbagai alasan. Tapi itu dulu, ketika mesin tanpa busi tersebut masih berteknologi konvensional. Kini transformasi diesel canggih dengan berbagai peranti elektronik tetap berisiko sama dengan mobil berbahan bakar bensin.

Menurut Iwan Abdurrahman, Technical Service Division PT Toyota Astra Motor (TAM), kebanyakan mobil bermesin diesel memang memiliki sosok yang tinggi besar, terutama bermodel SUV. ”Anggapan itu akhirnya keterusan. Padahal memang karena ground clearance-nya rata-rata sudah tinggi, lalu disebut tahan banjir,” kata Iwan kepadaKompasOtomotif, belum lama ini.

Iwan juga mengatakan bahwa mobil diesel memang tanpa busi dan tidak banyak peranti kelistrikan di ruang mesin. Tapi itu teknologi diesel lama. ”Kalau sekarang teknologi diesel baru sudah commonrail dengan banyak pompa, sensor, dan peranti elektronik lainnya. Risikonya (terhadap banjir) sama saja,” tegas Iwan.

TurboAnggapan salah lainnya adalah peranti turbo yang bisa menjadi penghalang air sebelum masuk ruang bakar. Dikatakan Iwan, anggapan ini juga salah kaprah. Peranti turbo bukan untuk menghalangi, namun memperlambat masuknya air ke ruang bakar.

”Dengan adanya turbo pipa dari mulai corong udara masuk ke ruang bakar lebih jauh. Cuma memperlambat saja, kalau kemungkinan masuknya tetap saja. Karena pada dasarnya turbo itu pompa angin. Kalau airnya ikut dan banyak ya kebawa juga,” tegas Iwan.

Dari penjelasan ini, bisa dipastikan, semua jenis mobil tetap rawan terhadap banjir. Paling penting adalah memperhatikan posisi saluran isap udara. Jika ketinggian air dirasa akan masuk ke saluran tersebut, sebaiknya banjir tidak diterjang.

Perilaku Mengemudi Jadi Kunci Utama Hadapi Banjir



Menghadapi banjir bukan hanya tentang kemampuan mobil melintasi genangan air, tetapi juga menyangkut perilaku pengemudi. Rifat Sungkar, pebalap nasional sekaligus pendiri sekolah mengemudi Rifat Drive Labs, menjelaskan, keputusan pengemudi sangat memengaruhi keselamatan berkendara di saatHujan.
“Berkendara di musim Hujan, tentu kecepatan kita hanya setengah dari biasanya atau di musim kering, teorinya seperti itu. Tapi kenyataannya, kalau sedang terburu-buru kadang hal itu tidak terjadi,” kata Rifat dalam diskusi keselamatan berkendara pekan lalu.
Sebelum berani menerjang banjir, Rifat mengatakan, hal utama yang harus diperhatikan yaitu ketinggian posisi saluran isap udara mesin. Menyepelekan menerobos banjir asal knalpot tidak kemasukan air dianggap kurang tepat, air tidak masuk ke saluran isap lebih penting karena diibaratkan seperti “hidung” mobil.
Sama seperti manusia ketika menyelam, yang seharusnya ditutupi adalah hidung agar tidak kemasukan air. Pada mesin kendaraan, air yang masuk proses pembakaran lewat saluran isap bisa mengakibatkanwater hammer.
“Ini jadi tanggung jawab semua pengguna mobil agar tahu di mana air intake-nya (saluran isap),” terang juara nasional reli delapan kali ini.
Saat banjir, lanjut Rifat, mobil berumur ataupun baru dengan teknologi modern punya risiko yang sama. Semua hambatan yang terjadi dalam kondisi biasa akan semakin parah saat Hujan.
“Banjir itu enggak ada obatnya, sejago-jagonya orang bawa mobil pasti kalah sama banjir. Jadi kalau banjir, pelan-pelan,” lugas pria 36 tahun yang sedang menunggu kelahiran anak kedua ini.

sumber: kompas.com
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar